Ekspedisi Ibnu Abil Auja as-Sulami ke Bani Sulaim pada Dzulhijjah tahun 7 Hijriah
Rasulullah ﷺ mengutus Ibnu Abil Auja ke Bani Sulaim pada Dzulhijjah tahun 7 Hijriah. Beliau menyeru mereka kepada Islam, tetapi mereka menolak. Lalu terjadilah pertempuran sengit, Abu Abil Auja terluka, dan dua orang musuh tertawan.

Rasulullah ﷺ mengutus Ibnu Abil Auja ke Bani Sulaim pada Dzulhijjah tahun 7 Hijriah. Beliau menyeru mereka kepada Islam, tetapi mereka menolak. Lalu terjadilah pertempuran sengit, Abu Abil Auja terluka, dan dua orang musuh tertawan.
Termasuk dalam kebijakan pengiriman ekspedisi pada Tahun 7 Hijriah (7 H) setelah Umrah Qadha', dalam kerangka memperluas dakwah dan mengamankan wilayah sekitar Madinah.
Pada Dzulhijjah tahun ini: terjadi Ekspedisi Ibnu Abil Auja as-Sulami ke Bani Sulaim.
Nabi ﷺ mengirim sebuah ekspedisi kepada Bani Sulaim untuk mengajak mereka kepada Islam. Mereka tidak menerima dakwah itu, lalu terjadi pertempuran antara mereka dan ekspedisi tersebut, dan akhirnya pemimpin ekspedisi terluka serta dua orang dari pihak lain ditawan.
Peristiwa ini disebut dalam ekspedisi-ekspedisi tahun 7 Hijriah, setelah Umrah Qadha', dalam konteks berlanjutnya pengiriman ekspedisi setelah keadaan stabil di Hudaibiyah dan sesudahnya.
Kelanjutan penyampaian dakwah dan perlindungan Madinah serta sekitarnya dari ancaman-ancaman kabilah.
Kehadiran kaum Muslimin secara militer dan dakwah di wilayah itu menjadi tetap, sementara rincian dampak jangka panjang tetap ada.
Mendokumentasikan salah satu ekspedisi pada Tahun 7 Hijriah setelah Umrah Qadha'.
Menunjukkan kelanjutan dakwah kepada Islam hingga kepada kabilah-kabilah yang jauh.
Menunjukkan meluasnya pengaruh negara Nabi ke kabilah-kabilah di sekitarnya.
Mengungkap sifat hubungan antara Madinah dan kabilah-kabilah tetangga pada tahap itu.
Mengajarkan bahwa dakwah mendahului konfrontasi, dan kerja militer terikat oleh tujuan yang sah.
Menunjukkan perpindahan masyarakat dari kekacauan kabilah menuju keteraturan dan risalah.
Berperan dalam mengamankan wilayah sekitar Madinah dan menunjukkan kekuatan pencegah.
Pemimpin ekspedisi
Pengirim dan pengarah ekspedisi
Pihak yang menjadi sasaran ekspedisi
Dakwah kepada Islam adalah pokok, dan perang datang setelah penolakan dan konfrontasi.
Kerja militer terkait dengan tujuan yang jelas, bukan sia-sia.
Kabilah merupakan satuan yang berpengaruh dalam keputusan dan sikap.
Negara Nabi mengutus ekspedisi-ekspedisi untuk menata wilayah politik di sekitarnya.
Mengajarkan para sahabat untuk menggabungkan dakwah dan ketegasan.
Adanya kepemimpinan yang mengirim ekspedisi-ekspedisi dengan tugas tertentu.
Membangun keamanan umum di atas dasar risalah, bukan atas dasar asabiah.
Penolakan terhadap risalah atau dakwah disertai ketegangan atau benturan di lingkungan sekitar.
Mengutamakan dakwah dan penjelasan sebelum eskalasi apa pun, dengan tujuan yang jelas dan disiplin.
Pentingnya perencanaan dakwah dan kerja lapangan yang terorganisasi.
Keharusan menjaga ruang publik dengan tetap menghormati urutan prioritas.
Hendaknya jelas tujuan, tertib sarana, dan tidak tergesa-gesa dalam menilai.
Tidak dibenarkan menerapkan hukum-hukum ekspedisi Nabi pada realitas kontemporer tanpa batasan syar‘i dan kewenangan yang diakui.
Konteks Nabi berada dalam kerangka kepemimpinan wahyu dan negara yang baru tumbuh, sedangkan konteks modern memiliki sistem dan undang-undang yang berbeda.
Penanganan dimulai dengan penjelasan dan dakwah, kemudian diikuti prosedur yang tertib sesuai syariat dan peraturan.