Dalam rujukan Nabi ﷺ dari Perang Dzatur Riqa', beliau membeli unta Jabir bin Abdullah lalu memberinya harganya dan mengembalikannya kepadanya
Nabi ﷺ dalam perjalanan pulang dari Dzatur Riqa' membeli unta Jabir bin Abdullah, lalu membayar harganya dan mengembalikan unta itu kepadanya.

Nabi ﷺ dalam perjalanan pulang dari Dzatur Riqa' membeli unta Jabir bin Abdullah, lalu membayar harganya dan mengembalikan unta itu kepadanya.
Peristiwa parsial dalam konteks kepulangan dari Perang Dzatur Riqa' pada Tahun 7 Hijriah (7 H).
Dan dalam rujukan mereka dari Dzatur Riqa', Nabi ﷺ membeli unta Jabir bin Abdullah, lalu beliau memberinya harganya dan mengembalikannya kepadanya.
Peristiwa Nabi ﷺ membeli unta Jabir lalu mengembalikannya terjadi dalam perjalanan pulang beliau ﷺ dari salah satu peperangan, ketika Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhuma tertinggal dari pasukan karena untanya lemah dan kelelahan. Nabi ﷺ kemudian menyusulnya, menanyakan keadaannya, lalu mendoakan untanya dan menusuknya dengan tongkat beliau, sehingga unta itu menjadi kuat kembali dan berlari cepat. Setelah itu Nabi ﷺ menawarkan kepada Jabir untuk membeli untanya. Jabir pun menjualnya dengan syarat beliau menungganginya sampai tiba di Madinah, dan Nabi ﷺ menerima syarat itu. Ketika keduanya sampai di Madinah, Nabi ﷺ memberinya harga unta itu dan menambahkannya, lalu mengembalikan unta itu kepadanya sebagai hadiah. Peristiwa ini menunjukkan kelembutan dan kebijaksanaan Nabi ﷺ dalam menolong para sahabatnya; beliau membantu Jabir secara materi tanpa melukai kehormatannya, serta mengajarkan secara langsung pemenuhan syarat, sikap baik dalam bermuamalah, dan perhatian terhadap keadaan para pemuda yang sejak dini memikul beban keluarga dan utang.
Peristiwa ini terjadi dalam kepulangan Nabi ﷺ dari Perang Dzatur Riqa' di medan perjalanan.
Terwujud transaksi jual beli lalu kebaikan dengan mengembalikan unta kepada pemiliknya.
Peristiwa parsial yang diriwayatkan dalam konteks Perang Dzatur Riqa'.
Menampakkan baiknya perlakuan dan kesetiaan dalam berinteraksi.
Menampilkan transaksi keuangan langsung antara Nabi ﷺ dan para sahabatnya.
Mendidik kepada amanah dan keadilan dalam jual beli.
Menghadirkan model akhlak dalam muamalah.
pembeli lalu pemberi harga dan pengembali unta
pemilik unta dan penjualnya
Berbuat ihsan dan adil dalam perilaku praktis.
Menepati janji dalam muamalah dan tidak memakan hak orang lain.
Memperkuat kepercayaan di antara anggota masyarakat muslim.
Dibolehkannya jual beli dengan menepati harga.
Mengajarkan para sahabat cara bertindak yang baik dalam harta.
Menampakkan akhlak Islam dalam muamalah sehari-hari.
Lemahnya amanah dalam transaksi keuangan.
Menepati hak dan mengembalikan kezaliman saat bermuamalah.
Menegakkan integritas dan transparansi dalam akad dan transaksi.
Memperkuat kepercayaan publik dalam transaksi.
Berusaha adil dan berbuat ihsan dalam jual beli.
Terbatas pada makna moral dan fikih umum yang dipahami dari teks.
Peristiwa itu terjadi dalam konteks perang dan perjalanan, sedangkan penerapan masa kini terjadi dalam muamalah kehidupan sehari-hari.
Penuhilah hak-hak finansial secara sempurna, dan berbuat baiklah kepada orang-orang dalam muamalah mereka.