Turunnya Surah al-Fath kepada Rasulullah ﷺ dalam kepulangan mereka dari Hudaibiyah di Dhajnan dan ucapan selamat kaum Muslimin kepadanya
Ketika Rasulullah ﷺ kembali dari Hudaibiyah, di Dhajnan turun Surah al-Fath, lalu kaum Muslimin mengucapkan selamat kepada beliau.

Ketika Rasulullah ﷺ kembali dari Hudaibiyah, di Dhajnan turun Surah al-Fath, lalu kaum Muslimin mengucapkan selamat kepada beliau.
Hal ini merupakan peneguhan Al-Qur'an terhadap fase Hudaibiyah dan perubahan-perubahan yang menyusul dalam perjalanan dakwah.
Dalam kepulangan mereka dari Hudaibiyah di Dhajnan, Surah al-Fath turun kepada Rasulullah ﷺ, lalu kaum Muslimin mengucapkan selamat kepadanya.
Maksudnya, Allah menurunkan Surah al-Fath kepada Nabi ﷺ saat beliau pulang dari Hudaibiyah, sehingga kaum Muslimin bergembira dan mengucapkan selamat atas kemenangan dan kemenangan yang nyata itu.
Hal itu terjadi ketika Nabi ﷺ kembali dari Hudaibiyah setelah Umrah Qadha' atau Perjanjian Hudaibiyah, dalam rangkaian peristiwa Tahun 6 Hijriah (6 H).
Keterkaitan surah itu dengan peristiwa Hudaibiyah beserta kemenangan, pertolongan, dan penguatan bagi orang-orang beriman.
Perasaan umum beralih dari sekadar kembali dari Hudaibiyah menjadi menyadari bahwa apa yang terjadi adalah kemenangan yang nyata menurut nash Al-Qur'an.
Mengaitkan Hudaibiyah dengan turunnya Surah Al-Fath.
Menjelaskan bahwa peristiwa politik dan militer dapat turun ayat-ayat yang menerangkan makna dakwahnya.
Menegaskan bahwa Hudaibiyah adalah sebuah Fathu Makkah, bukan sekadar pulang.
Menunjukkan interaksi kaum Muslim dengan wahyu melalui ucapan selamat kepada Nabi mereka ﷺ.
Mendidik untuk memahami peristiwa dengan neraca Al-Qur'an, bukan hanya dari lahiriah hasilnya.
Menonjolkan peran Al-Qur'an dalam menafsirkan peristiwa dan membentuk kesadaran kolektif.
Memberi Hudaibiyah makna strategisnya sebagai Fathu Makkah yang nyata.
Turun kepada beliau Surah Al-Fath
Mereka mengucapkan selamat kepada Nabi ﷺ atas turunnya Surah Al-Fath
Bahwa kemenangan yang hakiki berasal dari Allah Ta'ala.
Bergembira atas nikmat Allah dan saling mengucapkan selamat kepada kaum beriman.
Soliditas jamaah beriman di sekitar Nabi mereka ﷺ.
Mendefinisikan kembali peristiwa politik sebagai kemenangan ilahi.
Mengajarkan kaum beriman membaca peristiwa dalam cahaya wahyu.
Wahyu adalah rujukan tertinggi dalam menafsirkan peristiwa.
Peradaban Islam membangun pemahamannya tentang sejarah di atas Al-Qur'an.
Menilai peristiwa dari lahirnya tanpa memahami maknanya yang hakiki.
Dalam sebagian peristiwa mungkin tampak makna yang belum sempurna, lalu wahyu atau firasat menjelaskan bahwa itu adalah kemenangan dan kebaikan.
Pentingnya mengaitkan pembacaan peristiwa dengan rujukan syar'i.
Tidak tergesa-gesa menilai hasil sebelum gambaran menjadi utuh.
Rida terhadap hikmah Allah dan berbaik sangka kepada janji-Nya.
Tidak menyamakan peristiwa nabawi yang khusus dengan peristiwa kontemporer dari segala sisi.
Konteks nabawi didukung wahyu, sedangkan konteks kontemporer memerlukan ijtihad manusia yang teratur.
Bacalah peristiwa itu dalam cahaya rujukan syar'inya sebelum menjatuhkan penilaian atasnya.