Pembangunan Masjid Nabawi dan pembangunan kamar-kamar para istri Nabi ﷺ pada Tahun 1 Hijriah (1 H)
Setelah Nabi ﷺ tiba di Madinah, langkah praktis pertama beliau adalah membangun Masjid Nabawi di tempat untanya berlutut, kemudian di sampingnya dibangun kamar-kamar para istri beliau ﷺ, dan setelah selesai beliau pindah ke sana dari rumah Abu Ayyub.

Setelah Nabi ﷺ tiba di Madinah, langkah praktis pertama beliau adalah membangun Masjid Nabawi di tempat untanya berlutut, kemudian di sampingnya dibangun kamar-kamar para istri beliau ﷺ, dan setelah selesai beliau pindah ke sana dari rumah Abu Ayyub.
Merupakan awal pembangunan negara dan masyarakat di Madinah setelah hijrah.
Dan padanya: dibangun Masjid Nabawi dan kamar-kamar para istri Nabi ﷺ.
Masjid Nabawi menjadi pusat kehidupan baru di Madinah dan bukan tempat shalat saja, melainkan juga untuk pengajaran, pertemuan, dan pengelolaan urusan kaum Muslimin. Di samping masjid dibangun kamar-kamar Nabi ﷺ yang ditempati para istri beliau.
Nabi ﷺ mula-mula singgah di Quba lalu masuk ke Madinah, dan diperlukan sebuah pusat yang menghimpun kaum Muslimin serta membangun masyarakat baru mereka.
Kebutuhan akan pusat keagamaan, sosial, dan administratif yang menghimpun serta mempersatukan kaum Muslimin.
Kaum Muslimin berpindah dari tahap pemantapan awal ke tahap membangun lembaga sentral yang menghimpun agama, masyarakat, dan politik.
Termasuk salah satu amal awal pendirian Madinah an-Nabawiyah.
Menjadikan masjid sebagai titik tolak pendidikan dan dakwah.
Mendirikan pusat untuk mengatur urusan masyarakat Muslim.
Mempersatukan kaum Muhajirin dan Anshar dalam satu kerangka.
Menunjukkan nilai kerja dan partisipasi praktis dari pemimpin.
Mendirikan lembaga peradaban yang menyeluruh dalam Islam.
Menyediakan basis yang kokoh untuk awal negara Islam.
Memerintahkan pembangunan masjid, ikut membangunnya dengan tangannya sendiri, dan pindah ke kamar-kamar setelah selesai dibangun
Nabi ﷺ singgah di rumahnya terlebih dahulu sebelum pindah ke kamar-kamar
Bahwa pembangunan masyarakat dimulai dari masjid dan ibadah.
Kerendahan hati dan ikut serta dalam pekerjaan.
Persatuan kaum Muslimin di sekitar satu pusat.
Tegaknya kepemimpinan sentral bagi masyarakat baru.
Pengaturan sumber daya dalam pembangunan bersama yang bermanfaat.
Mengajarkan para sahabat kerja sama dan keteladanan praktis.
Masjid adalah lembaga yang menyatukan ibadah, pendidikan, dan administrasi.
Permulaan terbentuknya peradaban Madinah atas dasar risalah.
Terpecahnya masyarakat dan ketiadaan pusat pemersatu.
Pentingnya membangun lembaga pemersatu yang menggabungkan ibadah, pendidikan, dan pelayanan umum.
Pentingnya keterpaduan antara risalah ruhani dan tatanan kelembagaan.
Bahwa stabilitas dimulai dengan membangun struktur pemersatu dan nilai-nilai bersama.
Inisiatif dan partisipasi dalam pembangunan umum.
Terbatas pada pelajaran umum tanpa penerapan yang tidak terukur.
Konteks Nabi merupakan peletakan dasar langsung bagi masyarakat baru dengan wahyu dan bimbingan Nabi.
Mulailah dengan membangun pusat pemersatu sebelum pekerjaan bercabang-cabang.