Nabi ﷺ memerintahkan Usamah bin Zaid memimpin pasukan untuk menyerang Syam pada bulan Safar tahun 11 Hijriah, lalu pasukan itu berhenti di Jurf karena sakitnya Nabi ﷺ
Pada bulan Safar tahun 11 Hijriah, Rasulullah ﷺ memerintahkan Usamah bin Zaid memimpin pasukan menuju Syam. Orang-orang pun keluar bersamanya hingga mereka turun di Jurf, lalu penyakit Nabi ﷺ membuat mereka menunggu.

Pada bulan Safar tahun 11 Hijriah, Rasulullah ﷺ memerintahkan Usamah bin Zaid memimpin pasukan menuju Syam. Orang-orang pun keluar bersamanya hingga mereka turun di Jurf, lalu penyakit Nabi ﷺ membuat mereka menunggu.
Merupakan salah satu keputusan militer dan organisasi terakhir Nabi ﷺ sebelum wafat, serta menunjukkan berlanjutnya penyiapan negara Islam bahkan pada hari-hari sakit.
Pada bulan Safar pada tahun ini: Rasulullah ﷺ memerintahkan Usamah bin Zaid radhiyallahu 'anhu untuk memimpin satu detasemen dalam serangan ke Syam, lalu ia berhenti di Jurf karena sakitnya Rasulullah ﷺ.
Nabi ﷺ menunjuk Usamah bin Zaid sebagai panglima pasukan yang dikirim ke arah Syam. Setelah pasukan berkumpul dan berangkat ke Jurf, yakni tempat yang dekat dengan Madinah, mereka tidak melanjutkan perjalanan jauh karena kabar sakitnya Nabi ﷺ membuat mereka menunggu apa yang ditetapkan Allah.
Hal itu terjadi pada akhir hayat Nabi ﷺ, setelah urusan Islam semakin kuat, dan disebutkan bahwa pasukan ini diarahkan untuk menakut-nakuti Romawi (Bizantium) dan mengembalikan kepercayaan ke dalam hati orang Arab di perbatasan.
Menampakkan kekuatan kaum Muslimin di perbatasan, menahan Romawi (Bizantium), dan mengembalikan kepercayaan kepada orang-orang Arab yang berada di perbatasan.
Pasukan berpindah dari tahap persiapan ke sikap menunggu dan menanti karena sakitnya Nabi ﷺ, lalu ekspedisi ini pun terkait dengan permulaan kekhalifahan Abu Bakar.
Termasuk penataan militer terakhir dalam kehidupan Nabi ﷺ, dan terkait dengan awal masa Abu Bakar.
Menunjukkan kesinambungan penyiapan kekuatan untuk melindungi dakwah.
Menunjukkan kewibawaan negara Islam terhadap Romawi dan perbatasan utara.
Mencerminkan melampauinya pertimbangan usia dalam kepemimpinan demi kompetensi.
Mendidik tentang ketaatan dan kepercayaan dalam memilih kepemimpinan.
Menunjukkan keteraturan negara Islam dalam keputusannya bahkan pada masa sakit dan pergantian.
Mengarahkan kekuatan ke perbatasan Syam untuk menakuti Romawi dan mengembalikan kepercayaan kepada orang-orang Arab yang menetap di perbatasan.
Memerintahkan pengangkatan Usamah bin Zaid sebagai panglima pasukan
Panglima pasukan yang diarahkan ke Syam
Pelaksanaan ekspedisi itu terkait dengannya setelah wafatnya Nabi ﷺ
Bersandar pada perintah Nabi ﷺ dan teguh dalam melaksanakan arahan beliau.
Berlaku adil dalam menilai orang dan tidak menolak mereka karena usia mereka.
Mendahulukan ukuran risalah atas ukuran usia dan kedudukan.
Menunjukkan bahwa negara Islam tidak berhenti karena pemimpin sakit.
Menanamkan kepercayaan kepada para pemuda yang layak memimpin.
Adanya tatanan militer yang jelas dan kepemimpinan yang tertentu.
Membangun negara yang mampu terus berjalan secara kelembagaan setelah wafat pendirinya.
Keraguan dalam memberdayakan kompetensi muda atau menghentikan rencana karena keadaan darurat.
Kepemimpinan yang bijaksana menempatkan orang yang tepat di tempat yang tepat dan tetap bekerja meski menghadapi krisis.
Pentingnya menyiapkan para pemimpin, melaksanakan rencana, dan tidak menangguhkannya tanpa alasan.
Keperluan akan keteguhan kelembagaan dan tidak mengaitkan segala sesuatu pada satu orang.
Ketaatan, kepatuhan, dan berbaik sangka terhadap pilihan kepemimpinan.
Cukup mengambil pelajaran umum tanpa penerapan yang tidak terkendali pada rincian peristiwa.
Konteks nabawi adalah wahyu dan kepemimpinan yang ma‘shum, sedangkan konteks kontemporer adalah ijtihad manusia yang memerlukan kaidah.
Jangan menghentikan rencana strategis hanya karena keberatan atas usia pemimpin atau karena keadaan darurat sementara, jika penantian teratur masih memungkinkan.