Ekspedisi Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu ke Turabah pada bulan Syaban dari Tahun 7 Hijriah (7 H)
Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu berangkat dalam sebuah ekspedisi ke Turabah pada bulan Syaban tahun 7 H, bersama tiga puluh orang. Mereka berjalan pada malam hari dan menampakkan diri pada siang hari. Ketika berita itu sampai kepada Hawazin, mereka lari. Umar tiba di tempat tinggal mereka tetapi tidak menjumpai seorang pun, lalu kembali ke Madinah.

Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu berangkat dalam sebuah ekspedisi ke Turabah pada bulan Syaban tahun 7 H, bersama tiga puluh orang. Mereka berjalan pada malam hari dan menampakkan diri pada siang hari. Ketika berita itu sampai kepada Hawazin, mereka lari. Umar tiba di tempat tinggal mereka tetapi tidak menjumpai seorang pun, lalu kembali ke Madinah.
Termasuk ekspedisi-ekspedisi yang menyusul Perjanjian Hudaibiyah dan mendahului tuntasnya penguasaan Islam atas wilayah-wilayah pinggiran Jazirah.
Dan pada bulan Syaban di tahun ini: terjadi Ekspedisi Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu ke Turabah.
Yang dimaksud ialah sekelompok kecil kaum Muslimin keluar dipimpin Umar radhiyallahu 'anhu menuju tempat Turabah. Pergerakan mereka cepat dan mengejutkan, sehingga Hawazin takut dan melarikan diri sebelum terjadi pertempuran. Akhirnya kaum Muslimin kembali ke Madinah.
Al-Rahiq al-Makhtum termasuk dalam sariyah-sariyah tahun ke-7 setelah Perjanjian Hudaibiyah, dan dalam konteks gerak langkah kaum Muslim yang bersifat mendisiplinkan terhadap pihak yang dapat mengancam Madinah atau daerah sekitarnya.
Membuat gentar pihak yang mungkin menyerang kaum Muslimin atau mengganggu wilayah sekitar Madinah, serta menunjukkan kekuatan kaum Muslimin setelah Hudaibiyah.
Tidak terjadi pertempuran, tetapi tampak pengaruh pencegahan dan rasa takut pada pihak lawan, dan ekspedisi itu kembali tanpa konfrontasi.
Mendokumentasikan salah satu ekspedisi pada Tahun 7 Hijriah (7 H).
Menunjukkan pengaruh kekuatan terorganisasi dalam melindungi dakwah.
Mencerminkan hadirnya negara Islam dalam melakukan pencegahan dan penguasaan wilayah pinggiran.
Berkontribusi dalam mengamankan masyarakat madani dari serangan mendadak.
Mengajarkan disiplin, kerahasiaan, dan ketepatan pengelolaan.
Menjelaskan perpindahan kaum Muslimin dari pertahanan yang terpencar ke gerakan yang terorganisasi.
Mewujudkan pencegahan tanpa pertempuran dan menggagalkan kemungkinan berkumpulnya lawan.
Pemimpin ekspedisi
Pihak yang mendapat kabar lalu lari
Kemenangan dapat berupa menanamkan rasa gentar ke dalam hati lawan tanpa pertempuran.
Melindungi jamaah Muslim dari ancaman luar.
Menampakkan kewibawaan negara Islam yang baru tumbuh.
Mengurangi biaya konfrontasi militer langsung.
Mengajarkan kerahasiaan, kesabaran, dan pertimbangan yang baik.
Adanya kepemimpinan dan organisasi dalam mengelola ekspedisi-ekspedisi.
Membangun keamanan umum melalui gerakan yang terorganisasi dan pencegahan.
Ancaman yang dapat dicegah dengan kesiapsiagaan dan disiplin sebelum terjadi bentrokan.
Gerakan yang terorganisasi dan lebih awal dapat mencegah konfrontasi.
Pentingnya perencanaan, kerahasiaan, dan disiplin dalam mengelola risiko.
Pencegahan yang bersifat antisipatif menjaga keamanan dan mengurangi kerugian.
Bahwa ketegasan disertai hikmah dapat mencapai tujuan tanpa bentrokan.
Peristiwa ini tidak dapat disamakan dengan setiap realitas kontemporer tanpa mempertimbangkan konteks syar'i dan historis.
Konteks Nabi adalah di lingkungan kabilah dan keadaan konflik bersenjata langsung.
Kesiapsiagaan yang terorganisasi dapat mencegah eskalasi sebelum terjadi.