Baiat dua belas orang dari Anshar di Aqabah, lalu pengutusan Mush'ab bin Umair bersama mereka untuk mengajarkan Al-Qur'an dan menyebarkan Islam di Madinah
Pada musim haji tahun kedua belas masa kenabian, dua belas orang dari Anshar datang kepada Nabi ﷺ di Aqabah lalu berbaiat kepada beliau. Baiat itu kemudian disebut Baiat Aqabah Pertama. Setelah itu, beliau mengutus Mush'ab bin Umair bersama mereka untuk membacakan Al-Qur'an kepada mereka dan memahamkan mereka dalam agama. Hal itu memiliki pengaruh besar dalam penyebaran Islam di Madinah.

Pada musim haji tahun kedua belas masa kenabian, dua belas orang dari Anshar datang kepada Nabi ﷺ di Aqabah lalu berbaiat kepada beliau. Baiat itu kemudian disebut Baiat Aqabah Pertama. Setelah itu, beliau mengutus Mush'ab bin Umair bersama mereka untuk membacakan Al-Qur'an kepada mereka dan memahamkan mereka dalam agama. Hal itu memiliki pengaruh besar dalam penyebaran Islam di Madinah.
Peristiwa ini merupakan langkah penting dalam perpindahan dakwah dari fase tertindas di Makkah menuju pembangunan basis keimanan di Madinah sebagai persiapan hijrah.
Pada musim haji pada tahun ini, datang kepadanya dua belas orang dari Anshar; sebagian dari mereka adalah orang yang pernah bertemu Nabi ﷺ pada musim sebelumnya. Mereka berbaiat kepadanya di Aqabah, maka peristiwa itu dinamakan Baiat Aqabah Pertama. Beliau juga mengutus Mush'ab bin Umair bersama mereka untuk membacakan Al-Qur'an kepada mereka, lalu banyak penduduk Madinah masuk Islam melalui tangannya.
Nabi ﷺ bertemu dengan sekelompok lelaki dari Anshar pada musim haji, lalu mereka masuk Islam dan berbaiat untuk berpegang teguh padanya. Setelah musim itu berakhir, beliau mengutus Mush'ab bin Umair bersama mereka untuk mengajarkan Al-Qur'an dan hukum-hukum agama, sehingga Islam tersebar di kalangan penduduk Madinah melalui tangannya.
Enam orang dari penduduk Yatsrib telah masuk Islam pada musim haji sebelumnya, dan mereka berjanji kepada Rasulullah ﷺ untuk menyampaikan risalah beliau kepada kaum mereka. Kemudian pada musim berikutnya datanglah dua belas orang lelaki, maka terjadilah baiat itu.
Respons sebagian penduduk Yatsrib terhadap dakwah Islam dan keinginan mereka untuk membawanya kepada kaum mereka, disertai kesiapan Madinah untuk menerima Islam.
Islam di Madinah beralih dari sekadar individu-individu yang beriman menjadi gerakan dakwah terorganisasi yang dipimpin oleh Mush'ab bin Umair, sehingga di rumah-rumah Anshar disebutlah Rasulullah ﷺ.
Termasuk salah satu baiat awal yang menjadi landasan berdirinya masyarakat Muslim Madinah.
Membuktikan bahwa dakwah dapat berpindah dari individu ke masyarakat melalui pendidikan dan baiat.
Memberikan kepada Nabi ﷺ sandaran dari penduduk Yatsrib di luar Makkah.
Membawa Islam ke rumah-rumah Anshar hingga tidak ada satu rumah pun dari rumah-rumah mereka kecuali di dalamnya ada sebutan Rasulullah ﷺ.
Menunjukkan peran pendidikan dengan Al-Qur'an dalam meneguhkan iman.
Turut membangun inti masyarakat baru yang berlandaskan risalah.
Menjadi pendahulu langsung hijrah ke Madinah.
Menerima rombongan Anshar dan berbaiat kepada mereka, lalu mengutus Mush'ab bin Umair bersama mereka
Beliau diutus Nabi ﷺ bersama para pembaiat untuk membacakan Al-Qur'an kepada mereka dan mengajarkan Islam
Berbaiat kepada Nabi ﷺ di Aqabah
Iman dimulai dengan baiat yang tulus, lalu diikuti dengan mempelajari Al-Qur'an dan mengamalkannya.
Kejujuran dan kesetiaan pada komitmen.
Islam menyebar di dalam masyarakat melalui keluarga dan rumah-rumah.
Adanya wadah yang aman bagi dakwah mengubah arah perjalanannya.
Pendidikan yang terstruktur mendahului perluasan masyarakat.
Mengirim guru dan pembaca Al-Qur'an merupakan awal dari penataan dakwah.
Membangun masyarakat baru dimulai dari akidah dan pendidikan.
Lemahnya perpindahan pengetahuan agama ke masyarakat baru atau yang sedang tumbuh.
Keberhasilan dakwah memerlukan baiat yang tulus, lalu pendidikan yang teratur dan tindak lanjut.
Pentingnya menyiapkan para da'i dan guru serta mengirim mereka ke lingkungan yang membutuhkan.
Membangun kohesi sosial di atas nilai-nilai bersama mendahului perubahan besar.
Menjadi bagian dari penyebaran kebaikan serta belajar dan mengamalkannya.
Terbatas pada pelajaran umum tanpa penerapan yang tidak ditunjukkan oleh teks.
Konteks kenabian adalah penegakan wahyu dan risalah, sedangkan konteks masa kini adalah penerapan dan pembinaan dalam realitas yang sudah ada.
Jika terdapat lingkungan yang siap menerima kebaikan, mulailah dengan mendidiknya dan meneguhkannya sebelum menuntut hasil-hasil besar.