Delegasi Harits bin Ka'ab datang kepada Rasulullah ﷺ pada Rabiulakhir tahun 10 Hijriah
Delegasi Harits bin Ka'ab datang kepada Rasulullah ﷺ pada Rabiulakhir tahun 10 Hijriah.

Delegasi Harits bin Ka'ab datang kepada Rasulullah ﷺ pada Rabiulakhir tahun 10 Hijriah.
Termasuk dalam tahap penyampaian Islam kepada kabilah-kabilah pada akhir periode Makkah.
Pada Rabiulakhir tahun ini: datang delegasi Harits bin Ka'ab kepada Rasulullah - ﷺ.
Yang dimaksud ialah sekelompok orang dari kabilah Harits bin Ka'ab datang kepada Nabi ﷺ pada waktu itu
Bahwa pada tahun 10 Hijriah Nabi ﷺ sedang menyerukan Islam kepada kabilah-kabilah dan perseorangan.
Konteks penyampaian Islam kepada kabilah-kabilah pada tahun 10 Hijriah.
Menjadi saksi atas berurutan datangnya utusan kabilah pada Tahun 10 Hijriah.
Termasuk dalam konteks penyampaian Islam kepada kabilah-kabilah.
Mencerminkan hubungan kabilah-kabilah dengan pusat kepemimpinan kenabian.
Menunjukkan kehadiran utusan-utusan kabilah dalam masyarakat Arab kala itu.
Mengajarkan pentingnya menyambut orang-orang dengan hikmah dan penjelasan.
Menunjukkan perpindahan dakwah dari lingkup Makkah ke penyampaian kepada kabilah-kabilah.
Merupakan bagian dari membangun komunikasi yang luas dengan orang Arab sebelum hijrah.
Menerima delegasi
Delegasi Bani Harits bin Ka'ab ialah delegasi dari Bani Harits bin Ka'ab di Najran, yang datang kepada Rasulullah ﷺ pada akhir masa kenabian setelah beliau mengutus Khalid bin Walid radhiyallahu 'anhu kepada mereka pada Rabiulakhir atau Jumadilawal tahun 10 H untuk menyeru mereka kepada Islam sebelum pertempuran selama tiga hari. Mereka pun menyambut dan masuk Islam. Kemudian delegasi mereka datang ke Madinah bersama Khalid, dan di antara mereka terdapat para tokoh seperti Qais bin al-Hushain Dzu al-Ghushshah, Yazid bin Abdul Madan, Yazid bin al-Muhajjal, Abdullah bin Qurad az-Ziyadi, Syaddad bin Abdullah al-Qanani, dan Amr bin Abdullah ad-Dhababi. Delegasi ini termasuk delegasi yang datang belakangan; sebab Bani Harits merupakan kabilah-kabilah Najran yang memiliki kedudukan dan kekuatan di selatan Jazirah. Setelah mereka masuk Islam, Nabi ﷺ mengangkat Qais bin al-Hushain sebagai pemimpin mereka, lalu mengutus Amr bin Hazm radhiyallahu 'anhu kepada mereka untuk mengajarkan Al-Qur'an, Sunnah, dan ajaran-ajaran Islam, serta mengambil sedekah mereka. Pentingnya delegasi ini tampak pada penjelasannya tentang meluasnya Islam hingga Najran dan Yaman, serta perpindahan kabilah-kabilah kuat dari kemandirian kesukuan menuju integrasi dalam negara nabawi melalui pendidikan, zakat, dan kepemimpinan, bukan hanya melalui pengumuman Islam semata.
Utusan-utusan itu datang kepada Nabi ﷺ dalam konteks dakwah kepada Allah.
Penyambutan dan dialog merupakan ciri dakwah.
Kabilah merupakan unit sosial yang aktif dalam berinteraksi dengan risalah.
Utusan-utusan mencerminkan pengakuan atas sentralitas Nabi ﷺ.
Mengajarkan bahwa berhubungan dengan kebenaran ditempuh dengan bertanya dan mendatanginya.
Adanya pola berulang dalam penyambutan utusan menunjukkan tertibnya kerja dakwah.
Peralihan kabilah-kabilah untuk menyampaikan kepada risalah, bukan menutup diri secara kabilah.
Lemahnya komunikasi antara dakwah dan orang-orang atau antara lembaga dan publik.
Pentingnya menyambut utusan dan berbagai pihak dengan dialog yang jelas.
Pengaturan saluran penyambutan dan representasi bagi orang-orang dan berbagai pihak.
Menguatkan komunikasi resmi dengan beragam unsur sosial.
Belajar berinisiatif mencari kebenaran dan bertanya tentangnya.
Dibatasi pada makna umum tanpa penerapan yang tidak memiliki dasar.
Konteks kenabian berada pada tahap perintisan dakwah, sedangkan konteks masa kini berada dalam lembaga-lembaga yang sudah ada.
Menyambut orang-orang dengan hikmah dan kejelasan membuka jalan bagi pemahaman dan pengaruh.