Rasulullah ﷺ mengangkat Utsman bin Abi Ash ats-Tsaqafi atas Thaif pada Ramadhan Tahun 9 Hijriah (9 H) karena semangatnya untuk mendalami agama dan mempelajari Al-Qur'an
Pada Ramadhan Tahun 9 Hijriah (9 H) Nabi ﷺ mengangkat Utsman bin Abi Ash atas Thaif, dan disebutkan bahwa ia termasuk yang paling muda usianya karena semangatnya untuk mendalami agama dan mempelajari Al-Qur'an.

Pada Ramadhan Tahun 9 Hijriah (9 H) Nabi ﷺ mengangkat Utsman bin Abi Ash atas Thaif, dan disebutkan bahwa ia termasuk yang paling muda usianya karena semangatnya untuk mendalami agama dan mempelajari Al-Qur'an.
Termasuk dalam penataan urusan wilayah yang telah masuk Islam dan pengangkatan orang yang layak dari kalangan mereka sendiri.
Pada Ramadhan tahun ini: Rasulullah ﷺ mengangkat Utsman bin Abi Ash atas Thaif, karena ia masih termasuk yang termuda, demi semangatnya untuk mendalami agama dan mempelajari Al-Qur'an.
Nabi ﷺ memilih Utsman bin Abi Ash untuk memimpin Thaif, dan keterangan itu menjelaskan bahwa sebabnya adalah semangatnya untuk mempelajari agama dan Al-Qur'an, meskipun ia termasuk yang termuda.
Bahwa delegasi Tsaqif datang dan memeluk Islam, dan bahwa Utsman bin Abi Ash termasuk rombongan mereka serta yang paling muda usianya, dan ia selalu menemani Nabi ﷺ untuk mempelajari Al-Qur'an dan agama.
Kebutuhan Thaif akan pemimpin setelah Tsaqif memeluk Islam, disertai tampaknya kecakapan Utsman dan semangatnya untuk menuntut ilmu.
Utsman bin Abi Ash berpindah dari seorang anggota delegasi yang belajar menjadi pemimpin atas Thaif.
Mendokumentasikan pengaturan urusan Thaif setelah masuk Islamnya Tsaqif.
Menunjukkan nilai ilmu dan Al-Qur'an dalam memilih para pemimpin.
Penyerahan pengelolaan kepada seorang lelaki dari penduduk setempat setelah mereka masuk Islam.
Memperkuat integrasi Tsaqif dalam masyarakat Islam.
Menghubungkan antara menuntut ilmu dan memikul tanggung jawab.
Menunjukkan pembangunan administrasi atas dasar agama dan ilmu.
Meneguhkan Thaif dalam wilayah Islam dengan kepemimpinan tepercaya dari kalangannya.
Utsman bin Abi Ash ats-Tsaqafi radhiyallahu 'anhu adalah seorang sahabat dari penduduk Thaif, yang datang bersama delegasi Tsaqif kepada Rasulullah ﷺ pada Tahun 9 Hijriah (9 H). Ia adalah salah satu lelaki termuda dalam rombongan itu, tetapi ia paling bersemangat mempelajari Al-Qur'an dan mendalami Islam; ia selalu menemani Nabi ﷺ dan bertanya kepadanya ketika para sahabatnya telah pergi. Ketika Tsaqif memeluk Islam, Nabi ﷺ mengangkatnya memimpin mereka karena melihat kecerdasan dan semangatnya dalam beragama, serta berwasiat kepadanya agar meringankan orang-orang dalam shalat dan memperhatikan orang yang lemah, orang tua, dan orang yang membutuhkan. Sirahnya menegaskan bahwa kepemimpinan dalam Islam tidak dibangun semata-mata di atas usia, melainkan di atas ilmu, amanah, dan semangat melayani orang-orang.
Mengangkat Utsman sebagai pemimpin atas Thaif
Al-Qur'an dan pemahaman agama merupakan ukuran pemberdayaan.
Mendahulukan perhatian pada ilmu daripada semata-mata usia atau kedudukan.
Melibatkan putra-putra masyarakat setempat dalam kepemimpinannya.
Memilih wali berdasarkan kelayakan dan penerimaan.
Ilmu melayakkan seseorang untuk memikul tanggung jawab.
Administrasi memerlukan orang yang menggabungkan keterikatan dan kompetensi.
Membangun masyarakat yang di dalamnya orang-orang terdidik maju ke posisi kepemimpinan.
Mendahulukan orang yang tidak layak untuk jabatan karena usia atau wibawa.
Jadikan ukuran penunjukan adalah kompetensi dan semangat belajar.
Memilih para pemimpin dari kalangan yang berilmu dan berkomitmen.
Mengaitkan tanggung jawab dengan kualifikasi, bukan semata-mata kedudukan.
Kesungguhan dalam memahami agama membuka pintu tanggung jawab yang bermanfaat.
Terbatas pada makna umum tentang kompetensi dan pembelajaran tanpa penerapan yang tidak disebutkan.
Konteks nabawi adalah wahyu dan penetapan langsung, sedangkan konteks modern adalah ijtihad administratif dalam sistem yang berbeda.
Barang siapa menginginkan tanggung jawab, hendaklah ia mempersiapkan diri dengan ilmu dan akhlak sebelum mencari jabatan.